SAWANG SINAWANG

Sawang sinawang - sigerkita.com
Sawang Sinawang
Oleh: Fakhruddin Attar

Dalam filosofi Jawa, ada sebuah ungkapan yaitu “Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang bisa kita tafsirkan yaitu hakikat dalam menjalani kehidupan hanyalah perkara bagaimana seseorang melihat/memandang sebuah kehidupan. 

Kalimat yang terlihat begitu sederhana namun memiliki makna mendalam, begitulah filosofi Jawa. Perihal “melihat orang lain" dan “dilihat orang lain” menjadi hal yang lumrah bahkan kita mengalami sendiri. Bayangan keberhasilan, kenyamanan, kebahagiaan orang lain yang kita pandang mulus tanpa rintangan kadang sama sekali berbeda dengan kenyataan yang terjadi.

Membandingkan hidup kita dengan orang lain merupakan alasan utama kita tak pernah bahagia dan merasa cukup. Menghabiskan 24 jam dalam sehari untuk memandangi kebahagiaan orang lain tanpa perduli sudah berapa peluang bahagia yang kita lewatkan begitu saja. Orang yang berlimpah kekayaan belum tentu merasa bahagia, sebab bahagia tidaknya seorang manusia, bukan berparameterkan kekayaan. Belum tentu mereka menikmati kebahagiaan dan ketenangan sedangkan pikiran kalut dalam ketakutan dan kekhawatiran. Khawatir jatuh miskin, takut harta benda dicuri, hingga dikesunyian malam mata tak kunjung terpejam karena takut kehilangan.

Membandingkan adalah aktivitas tanpa ujung. Mungkin sebab inilah kita lupa tentang hakikat syukur. 

“ …Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat – Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim :7)

Menjadi keharusan kita bersyukur atas segala belas kasih Sang Maha Kuasa kepada kita, syukur kita masih diberikan kemampuan bernafas menikmati setiap belaian udara yang secara gratis disuguhkan kepada kita. Tidakkah kita yakin atas janji Allah pada ayat diatas, maka tatkala mampu bersyukur maka akan ditambah nikmat kepada kita.

Mari hentikan aktivitas ini yang menghabiskan waktu tanpa manfaat, hanya menimbulkan keresahan dan sesak dalam dada. Percayalah Allah telah siapkan kado terbaik untuk hamba-Nya dengan jalan dan waktu yang berbeda-beda. Tugas kita adalah memaksimalkan ikhtiar dan melangitkan harapan dalam do’a serta menjadikan kesabaran sebagai pegangan keyakinan sebagai penguat dan keimanan sebagai landasan. 

Semoga kita semua senantiasa ditetapkan sebagai golongan orang yang pandai bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin

…Laa Hawla Wala Quwwata Illa Billah…

Belum ada Komentar untuk "SAWANG SINAWANG"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel