IMAN YANG TAK SENDIRI By M. AGUS SALIM

Iman, Bapinda, UIN Raden Intan Lampung

Sebagaimana kemampuan memimpin, kemampuan untuk menjalin hubungan adalah kecenderungan sekaligus pembelajaran (Ustadz. Salim A. Fillah)


Menelisik perjalanan diri dalam lingkaran Islami, cukuplah membuat hati ini terenyuh untuk bersyukur sebanyak-banyaknya. Kisah ini tercipta bukan tanpa sebab, hadirnya diri di BAPINDA UIN Raden Intan Lampung, diawali saat diri ini diperkenalan dengan ekstrakulikuler Rohani Islam di bangku SMA. Disitulah awal mulai goresan kisah terbentuk dan awal mula diri ini  mengenal Islam secara mendalam. Berjalannya waktu diri ini merasakan kenyamanan dan perubahan positif yang belum pernah dirasa sebelumnya; yaitu mulai kenal sholat dhuha, belajar ikutan ODOJ, gerakan sholat subuh, SMS tausiyah dll.  Hmm, indah dikenang memang!


Oh ya! Dibalik semua itu, ada sosok hebat yang membimbing kami dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Ibu Yuliamah namanya, kami sangat bersyukur dipertemukan dengan beliau, sangat banyak jasa-jasa beliau untuk kami. “Semoga sehat selalu ya bu”. Selama dua tahun berada dalam lingkaran di ROHIS, menjadikan motivasi diri untuk berupaya dan berkomitmen menjadi sosok figur di lingkungan sekolah. Hingga dipenghujung kelulusan, kami sempat bertukar kado dengan teman-teman di ROHIS dan disitulah suasana menjadi penuh keharuan dan penuh syukur karena tidak lama lagi kami akan meninggalkan sekolah. Namun Ibu Yuliamah berpesan kepada kami, untuk tetap memegang prinsip saat lulus nanti, dimanapun kita berada.


Singkat waktu, saat diri ini memasuki dunia perguruan tinggi. Energi akan kebaikan terus meminta dalam gelora benak jiwa, seakan bekas kisah di perjalan SMA masih sangat hangat menancap dalam prinsip diri. Bersyukur Allah memberikan kekuatan untuk bisa memilih dan memilah saat itu. Teringat sekali saat BAPINDA UIN Raden Intan Lampung melakukan serangkaian kreasi untuk dapat menarik MABA (Mahasiswa Baru), mulai saat itulah banyak kekaguman yang muncul dalam jiwa dan semakin memantapkan hati untuk dapat bergabung dalam wadah ini.


Namun dikala banyak sekali pilihan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan banyak juga masukan-masukan kepada diri, saat akan berpacu dalam organisasi. Dalam perjalanannya saat diri memilih beberapa organisasi dalam masa perkuliahan, memang rasanya BAPINDA lah ruh dari setiap organisasi yang saya ikuti. Banyak kenangan yang tergoreskan disini. Awal kisah saat diri ini menjadi pengurus LDF di FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) dipilih sebagai staff lalu tahun berikutnya menjadi kepala bidang Kaderisasi, bukanlah tugas yang ringan. Karena seperti kita tahu bahwa kaderisasi adalah epicentrumnya organisasi.


Bertanya, berdiskusi, berencana dan eksekusi adalah modal diri ini dalam mengarungi amanah kepengurusan. Teringat sekali dengan program-program yang dijalankan; tasqif, mabit, iftor, riyadhoh, dll, yang dirindu adalah kegupekan saat dibelakang layar; nyiapin snack pemateri (pipetnya suka ketinggalan :v), nyiapin goody bag, kotak infak yang ketinggalan, dan masih banyak lagi cerita lainnya. Nikmat, sungguh! Ya..itulah sekelumit warna dalam agenda-agenda saat itu dan benar rasa bersyukur itu muncul akhir-akhir ini. Bisa bertemu dengan teman-teman baik, lingkungan yang positif dan kegiatan yang sangat-sangat produktif. Hingga membentuk sebuah kebiasaan dan karakter diri sampai saat ini.


BAPINDA UIN Raden Intan Lampung bak mata air yang sangat jernih; memberikan prinsip yang sangat komperehensif bagi kita untuk memaknai kehidupan bukan hanya soal materi namun juga substansi, memahami ilmu bukan hanya untuk pengetahuan atau wawasan namun haruslah sebuah tindakan atau amaliah, juga memberikan konsep bahwa beramal bukan hanya untuk individu namun bersama lebih utama.


Sangat bersyukur diri ini dipertemukan dengan BAPINDA, banyak perubahan diri yang dirasakan, menginsyafkan bahwa kita adalah makhluk lemah, sekalipun kita sudah berjamaah. Juga setiap kita adalah cerminan lingkungan kita, maka carilah cermin yang membawa kita kepada jalan yang lurus dan diridho-Nya. Merajut ukhuwah dan terus menguatkan rajutan-rajutan itu dengan rabithah Mu, agar hati tak timbul kerapuhan dikala raga terpisah jauh. Ukhuwah sangatlah manis kita rasa jika kita benar-benar merasa dengan cinta-Nya. Semoga keterpautan cinta-Nya selalu menggelora dalam ukhuwah-ukhuwah  kita. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangun dari sini, dalam dekapan ukhuwah.


Terima kasih telah mencipta kisah!
By M. Agus Salim
Staff KD UKM Bapinda 2019/2020
Foto Ikhwan PRESMAH 18/19

1 Komentar untuk "IMAN YANG TAK SENDIRI By M. AGUS SALIM"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel