KELUARGA BARU By ADELIA ANINDITA

”Ma, Pa.. Alhamdulillah, Adelia diterima di IAIN Raden Intan Lampung.” Ucapku seusai melihat pengumuman kelulusan jalur SPAN-PTKIN sore itu. Berbeda dengan reaksiku yang amat sumringah, beserta raut wajah seolah tak percaya bahwa sebentar lagi akan memasuki dunia mahasiswa di perantauan, orangtuaku tertegun cukup lama.


“Alhamdulillah. Jurusan apa?” tanya Mama. Jika disebut tak gembira dengan kabar ini, jelas aku salah. Orangtua mana yang tak merasa lega dengan pencapaian putrinya. Senyumnya seakan tertahan. Namun penyebabnya belum terungkap jelas.


“Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir” jawabku menyeringai. Bersiap-siap dengan reaksi yang akan datang selanjutnya.

            “Mau diambil?”
            “Insyaa Allah..” aku mengangguk.
            “Yakin? Gak mau coba ikut tes yang lain dulu?”

Aku tau kemana arah pertanyaan dari Mama kala itu. Tak lain adalah mengkhawatirkan kesanggupan putrinya menjalani proses di jurusan tersebut. Aku, adalah seorang pelajar yang bersekolah umum. Alias tidak ada background pondok pesantren atau pendidikan berbasis agama lainnya.


“Dari awal, Adelia sudah tertarik dengan jurusan ini, Ma. Memang kemarin sempat mengurungkan niat karena merasa tidak pantas sehingga memasukkan pilihan lain sebagai prioritas. Namun, ada pertimbangan yang membuat Adelia tetap menjadikan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sebagai pilihan, meski itu diposisi terakhir. Ternyata, Adelia malah diterima dijurusan ini. Mungkin ini petunjuk dari Allah, bahwa ini yang terbaik untuk dijalani. Allah sudah kasih jalan, sudah dimudahkan, dan Adelia juga emang tertarik untuk belajar disana. Jadi, bismillah. Mau diambil.” Paparku dengan sedikit gugup. Ini kali pertamanya bagiku meyakinkan orangtua atas sebuah pilihan.


“Istikharah dulu” saran Papa. “Jurusan apa saja, itu baik. Namanya juga belajar. Selagi mau, pasti ada jalannya, pasti dimudahkan” papa menambahkan sekaligus menutup ketegangan kala itu.


“Jadi, merantau nih?” Mama mulai tak kuasa menahan kegundahannya. Akan berpisah untuk pertama kali dengan putri bungsunya tentu hal yang tak mudah. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat khawatir mulai bermunculan. Tentang, “anakku nanti makan apa”, “mendapat lingkungan yang seperti apa?”, “teman-temannya bagaimana?”, “bisa jaga diri dan jaga nama baik keluarga atau tidak?”. Apalagi kota Bandarlampung adalah kota besar. Mindset orang-orang dikota kecil seperti kami tentu tak sepenuhnya baik dengan masyarakat kota, termasuk tentang cara pergaulannya.


“Ada LDK-nya gak disana?” informasi ini sebenarnya sudah masuk kedalam list persiapan untuk merantau. Bukan informasi biasa, tapi merupakan solusi dari kekhawatiran yang ada. Informasi tentang Bandarlampung masih sangat minim. Karena memang tidak terbayang akan hijrah kesana. Selama ini beranggapan akan merantau ke Palembang, selain jaraknya lebih dekat, masih satu provinsi juga dengan tempat domisili. Bener deh, gak kepikiran untuk ke Lampung.


“Nah itu, belum tau. Nanti coba cari informasi lagi. Mudah-mudahan ada” aku menjawab dengan segenap harapan semoga ada.


Setibanya di kampus IAIN Raden Intan Lampung, ketika makan siang di kantin Fakultas Syariah, Papa membuka percakapan dengan seorang mahasiswa yang sedang makan sendirian tak jauh dari meja kami. Percakapan tersebut berujung pada, “Disini ada LDK-nya gak, mas ?”.


“Ada, Pak. Semacam ROHIS gitu, kan? Namanya BAPINDA kalo disini” jelas si mahasiswa tadi. Papa langsung menoleh ke arahku. Memastikan bahwa aku mendengar itu. “Alhamdulillah. Semakin lapang langkahku di perantauan” lirihku dalam-dalam.


Semenjak saat itu, kedua orangtuaku “menitipkan” aku dengan UKM BAPINDA, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada didalam kampus UIN Raden Intan Lampung. Berpesan baik-baik agar aku mendengarkannya. Aku tak memiliki keluarga di Bandarlampung untuk sekedar menengok keadaanku sekali-sekali, untuk meminta bantuan disaat ada keperluan yang mendesak, atau untuk merawatku apabila aku sakit. Terbayang bagaimana kekhawatiran-kekhawatiran mengakar didalam hati kedua orangtuaku. Tapi satu yang aku ingat, “BAPINDA itu yang akan jadi keluargamu” semacam suntikan sugesti sekaligus pesan yang harus aku jaga.


Benar, sejak menjadi mahasiswa baru, ketika melewati serangkaian proses Kuliah Ta’aruf-nya, yang lalu-lalang di pikiranku adalah BAPINDA, BAPINDA, dan BAPINDA. Saat masa Kuliah Ta’aruf kala itu, aku singgah di Stand UKM BAPINDA untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Mereka menyambutku dengan hangat, dengan senyuman yang ramah, dengan jabat tangan yang erat, dan dengan pelukan yang menjadi ciri khasnya. Aku seolah menemukan keluarga yang telah lama berpisah. Aku merasa nyaman ditengah orang-orang baru. Aku menyimak kesibukkan dan obrolan-obrolan diantara mereka. Aku bercerita tentang keadaanku dan mengisyaratkan permintaan untuk menjagaku. Mereka pun menunjukkan sebuah rangkulan yang amat tulus, sungguh melegakan.


Setahun, dua tahun dan seterusnya hingga amanah orangtua telah tertunaikan. 75% hari-hariku terisi oleh UKM BAPINDA. Pikiranku, hatiku, langkahku adalah kesana dan disana. Bermula dari mahasiswa baru yang suka ikut-ikut kegiatan, berujung pada amanah yang terus berkesinambungan. UKM BAPINDA UIN Raden Intan Lampung adalah keluargaku. Tempat aku beserta keluarga menaruh kepercayaan untuk dijaga dalam keadaan yang baik. Ternyata tak hanya itu, ia telah memberikan banyak kesempatan untuk belajar. Menempa seseorang yang ngikut-ngikut aja, menjadi seseorang yang harus bisa mengambil sikap dan keputusan. Membuat seseorang yang tidak terlalu luas jangkauannya, menjadi seseorang yang harus berurusan sampai ke Akademik dan Rektorat. Merubah pola pikir seseorang yang sibuk dengan urusan pribadi, menjadi seseorang yang terus memikirkan kepentingan orang banyak. Seseorang yang tertutup, belajar menjadi orang yang terbuka. Menjadi faham bahwa tidak semua orang itu sama. Kita tak cukup sekedar mengenal dan memahami karakter orang lain, tetapi kita juga perlu untuk saling menerima. Agar kerja-kerja dakwah kita menyenangkan, tidak rusak oleh penyakit hati yang dapat merusak amalan.


Bersama dengan keluarga besar UKM BAPINDA UIN Raden Intan Lampung, aku menjadi tau bahwa untuk melakukan amal kebaikan pun kita perlu dibantu, perlu di fasilitasi. Kita tak bisa sendirian, kita butuh teman yang mengajak dan mengingatkan. Kita butuh keterikatan agar waktu-waktu kita tak terbuang percuma. Ikatan itu adalah ukhuwah dan amanah. Satu hari yang kita punya, jika tidak disibukkan dengan kebaikan-kebaikan, maka diri akan tergoda oleh kelalaian. Meskipun harus terpaksa, pada akhirnya kita akan bersyukur juga. Karena ada banyak kejutan dari Allah swt bagi yang menolong agamanya. Allah swt akan melihat kerja-kerja kita, dan semua itu tidak akan sia-sia.


Terima kasih untuk tahun-tahun yang berlalu. Terima kasih atas kesempatan belajar lewat amanah yang pernah dititipkan, yaitu sebagai Sekretaris Bidang Keputrian UKMF-SALAM, sebagai Sekretaris Umum UKMF-SALAM, Sekretaris Umum UKM BAPINDA, dan Staff Divisi Kesekretariatan. Terima kasih sudah menjaga dari sikap dan pilihan yang tidak tepat. Terima kasih untuk kebersamaan dan kehangatan yang pernah ada. Terima kasih sudah menjadi rumah yang dirindukan. Terima kasih sudah menciptakan banyak kesempatan untuk bertemu dan berproses dengan orang-orang sholih dan sholihah. Terima kasih sudah menjadi kenangan terindah selama disana, di UIN Raden Intan Lampung. Semoga terus menjadi wadah yang menginspirasi kebaikan bagi anggotanya dan bagi orang-orang yang menyaksikan setiap aktivitasnya.


TENTANG PENULIS

Aku, Adelia Anindita. Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir angkatan 2015, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Raden Intan Lampung. Berasal dari kota Baturaja, Sumatera Selatan merantau ke Bandarlampung untuk belajar Al-Qur’an. Ternyata, hingga 2020, tidak hanya dibangku perkuliahan saja aku mendapatkan pembelajaran, tapi juga di sebuah organisasi yang aku banggakan, yang aku harapkan bahkan sebelum mengenal daerahnya, kampusnya, dan masyarakatnya. Sebuah organisasi yang membuat aku kagum luar biasa dengan segala upayanya. Penampilan-penampilan terbaik yang disuguhkan UKM BAPINDA UIN Raden Intan Lampung ketika masa Kuliah Ta’aruf, seolah menggenapkan kepercayaan yang aku bawa dari kota kelahiran. Disana, aku tak pernah kecewa selain kepada diriku sendiri. Tentang, “Mengapa tidak lebih baik dalam berkontribusi?”

Belum ada Komentar untuk "KELUARGA BARU By ADELIA ANINDITA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel