AKHIR TAHUNKU

Akhir Tahunku - Wanda A Prasetya
Mahakarya oleh Wanda Agus Prasetya - Akhir-akhir ini, tepat ketika mendekati pergantian tahun, ikhwal merayakan tahun baru mencuat sebagai pembicaraan kalangan anak-anak muda. Tahun baru mu mau kemana? kita pesta nanti malam? Jalan bersama pasangan?. Memaknai jiwa-jiwa muda yang membara itu soal biasa, dan pemuda identik dengan kumpul bersama. 

Sebagian manusia berasumsi bahwa perayaan tahun baru bukan sebagai ajang untuk berfoya-foya, lantaran begitu banyak uang yang harus dikeluarkan misalnya, seperti menyalakan kembang api, atau kumpul-kumpul bareng dengan minum-minuman bersama teman-teman. Disisi lain berpendapat tahun baru sebagai pembuka lembaran baru yang perlu disambut dengan kegembiraan dan penuh rasa bahagia.

Merayakan berarti ada sebuah tercapainya target, karena itu menjadi bukti hajat yang diselenggarakan oleh beberapa orang. Pertanyaanku adalah sudah sejauh mana targetan itu aku jalankan? Tentunya tidak lepas dari esensi manusia sendiri. Apakah patut aku merayakan pergantian tahun baru ini, lantaran  aku menyadari bahwa esensi sebagai manusia tak pernah aku gubris. Betapa jahatnya manusia ini ?!!!

Mengutip dari seorang filsuf asal Yunani yang bernama Plato yang menyoal makna manusia, "Manusia itu terletak pada esensinya" sedangkan menurut Aristoteles "Manusia itu terletak pada pelaksanaannya". Teringat kembali pesan dari Ustadz. Makna manusia itu dapat dikatakan "Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini". Pesan tersebut tidak bisa lepas begitu saja dalam memori otakku, karena terdapat korelasi mendalam antara makna manusia dengan apa yang telah aku lakukan selama menjabat sebagai manusia. Itu hanya bisa terjawab oleh hati nurani masing-masing setiap manusia.

Betapa jahatnya dia yang bernama manusia, semena-mena terhadap segala sesuatu yang berada di sisinya. Betapa jahatnya dia yang bernama manusia, selalu menuntut agar permintaannya kepada yang Maha Kuasa dikabulkan, sedangkan ia sendiri lupa akan tugasnya. Betapa jahatnya dia yang bernama manusia, lantaran selalu ingkar terhadap janjinya. 

Sejauh ini, apakah kita sudah pantas disebut sebagai manusia ? Atau jangan-jangan selama ini kita bebas dari pengadilan dan hukuman lantaran kita tidak pantas diadili sebab sejatinya bukan manusia, walaupun berwujud sebagai manusia. Mari bersama-sama lebih memaknai bahwa tugas manusia bukan hanya sebatas label saja, tetapi berusaha memaknai dengan menjalankan kodrat kita sebagai manusia dengan semestinya. Jadikan tahun barumu sebagai ajang untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa, semoga dosa-dosa kita sebagai manusia diampuni oleh-Nya. Aamiin.

Bumi Allah, 31 Desember 2019


1 Komentar untuk "AKHIR TAHUNKU"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel